This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
30 September, 2011
24 September, 2011
23 September, 2011
APPR
sejarah telah mencatat, keberhasilan suatu bangsa tidak terlepas dari peran pemuda, kemajuan dan keterpurukan adalah pilar liar ditangan mereka, solidaritas dan komunikasi persuasive yang natural akan melahirkan buah fikiran produktive dalam mengawasi, memacu pembangunan bangsa, maka tidaklah berlebihan jika keberadaan pemuda layak dan sepatutnya diperhitungkan dibelahan negeri manapun, hal demikian juga merambat pada pola fikir pemuda di tingkat kelurahan sekalipun, sumpah pemuda dan semangat kesatuan persatuan pemuda di era tahun 40an telah dirasakan dan dinikmati kejayaan merdeka Republik Indonesia ini,sangat tidak bisa dinafikan, banyak bahkan hampir semua lini, bangsa bergantung pada keberadaan badan kekar, pikiran jernih dan sikap santun muda/i yang menjadi estafet bangsa dan garda depan dalam pembangunan,oleh karena pemikiran dan tinjauan tersebut, para pemuda di Ace Utara mencoba ambil bagian melakukan hal hal kecil untuk mewujudkan kesetaraan dan kesejahteraan yang merata, mengawasi kebijakan publik, menjaga stabilitas keamanan dan sumbang saran bagi program pemerintah hendaknya sejalan dengan kebutuhan yang tuntut oleh masayarakat, sehingga setelah digagas pertemuan perdana pada tanggal 15 September 2011 bertempat di kota Panton Labu, lahirlah beberapa rekomendasi diantaranya; (terlampir). dengan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, beberapa tokoh muda dan inisiator pemuda di Aceh Utara, telah menyatu-padukan visi misi dan melahirkan sebuah komunitas/wadah sebagai payung hukum dan di deklarasikan dengan nama "APPR" (Aliansi Pemuda Pasee Raya)
22 September, 2011
SEDANG KU CARI
14 Oktober 2010 jam 7:03
beri aku ruang..
beri aku jelamaan waktu yang menyamai
keruh kabut membaluri
mengisak dan terdiam dalam durja malam
terjal menapaki sepi..
Tuhan, sedang aku mencari...
ujung lorong sesak, ntah semua itu ada
atau fatamorgana mata,atau hati
Dia dimana, aku mencarinya
beri aku terjemahan ini, untuk apa,
titisan kelabu,
dalam lipatan masa yang akan senja....
SEDANG KU CARI
*** 14 Oktober 2010 jam 7:03
beri aku ruang..
beri aku jelamaan waktu yang menyamai
keruh kabut membaluri
mengisak dan terdiam dalam durja malam
terjal menapaki sepi..
Tuhan, sedang aku mencari...
ujung lorong sesak, ntah semua itu ada
atau fatamorgana mata,atau hati
Dia dimana, aku mencarinya
beri aku terjemahan ini, untuk apa,
titisan kelabu,
dalam lipatan masa yang akan senja....
21 September, 2011
20 September, 2011
19 September, 2011
PERAK MEMUDAR DIPINGGIR JINGGA
29 Oktober 2010 jam 8:49
aku terpuruk
dan remuk dalam hujan Tuhan..
ku isi harimu...
dalam gemuruh redup,ia damai
sesaat jua
senyum simpul menghela luka
menelusuri duri dalam sekam lama
kenapa secepat ini mati,pergi
dalam sekian terangkai puja, merindu pada lembar jingga
bersemanyam jiwa dan hati suci, beri aku nafas baru
beritakan tentang sendiriku
tentang perihku,tentang cerita yang sempat menganga
baik,ku ikuti..aku juga pergi tak sejalan
biar tujuan datang
setelah silih rasa sirna
18 September, 2011
PURNAMA
*** 24 Oktober 2010 jam 11:45
perlahan telah ku goreskan..
telah kuberanikan diri membagi,
secebis asa dan rasa untuk mu purnama lara
ku coba rengkuh setiap doa dan cita
ingin di persatukan dalam ruang yang sama
perlahan telah ku semai
telah ku tata dalam barisan bersahaja
perlahan telah ku semai
meski akhir mati perlahan dalam sarang rasa Nestafa
DAN SELANJUTNYA.
*** 07 Desember 2010 jam 10:14
pergilah untuknya,untuk hatinya,
dan kuburlah harmony saat bersama
jika perpisahan ini adalah bisikan hatimu
aku takkan menyalahi siapa siapa
mengguncanglah a'ras
menyibak tabir luka dalam kemuning sepi
bergema,ijab berucap,menyambangi nyata
Mungkin aku tak pernah punyai batas
Saat ku bergeming dalam hening
terdiam menangisi kau melambai pergi
Terus ku terpaku oleh harapan sirna
mencibir jiwa hampa.
meski cinta ini terus bertahan,
dalam anganku masih mencintaimu
meski langit membelah tinggi menaiki sebuah ikrar
cucu adam akan damai dalam cinta,
meski kerinduan selalu menghampiri
semoga abadi dalam gemilang cinta
kau menentu penemu,ini jawaban
dan tinggallah sebaris kenangan.
pergilah untuknya,untuk hatinya,
dan kuburlah harmony saat bersama
jika perpisahan ini adalah bisikan hatimu
aku takkan menyalahi siapa siapa
mengguncanglah a'ras
menyibak tabir luka dalam kemuning sepi
bergema,ijab berucap,menyambangi nyata
Mungkin aku tak pernah punyai batas
Saat ku bergeming dalam hening
terdiam menangisi kau melambai pergi
Terus ku terpaku oleh harapan sirna
mencibir jiwa hampa.
meski cinta ini terus bertahan,
dalam anganku masih mencintaimu
meski langit membelah tinggi menaiki sebuah ikrar
cucu adam akan damai dalam cinta,
meski kerinduan selalu menghampiri
semoga abadi dalam gemilang cinta
kau menentu penemu,ini jawaban
dan tinggallah sebaris kenangan.
17 September, 2011
PEUTUA HAN SEP TUHA
PEUTUA HANSEP TUHA
Awai boh manok, atau awai lahee ma manok??ungkapan yang pantas untuk sebuah dilemma structural gampong yang terus digulir oleh pemberontak,heran memang, berdiskusi atau sharing dengan lawan yang dibawah rata-rata, meski nasi telah menjadi bubur, namun tetaplah ia tokoh utama gampong, Peutua gampong yang patut di hargai walau harganya seharga oggokan jasad hidup, masukan dan saran produktif dianggap angin lalu, dan seiring waktu kinerjanya tanpa pertimbangan juga bobrok, entah mau jadi apa, berusaha semaksimal mungkin untuk tetap objektif, susah, sebagai saksi hidup saya juga merasakan kekecewaan yang sama dengan kawan kawan yang lain, Rapat Umum yang ‘konyol’.
Usungan persatuan,kesatuan membangun besama satu padu, berbatas pada poster HVS sebelum menjelang hari penceblosan,, di teriaki pada kapanye sederhana, berbisnis tim tanpa ajaran dan mau belajar, hasilnya hampa, tidak terletak entah pada lengan baju siapa ditumpu semua kekurangan, berjalan dengan ban kempes, sementara penumpang jua yang terus deg-degan, apalagi setelah ini?!
Menurut hemat saya, Rapat Umum menurut kamus bahasa Indonesia yang disempurnakan,adalah suatu perkumpulan, atau sekelompok orang, yang ingin menyelasaikan,mencari jalan keluar atau memutuskan perkara secara bersama,namun pengalaman pahit terulang di gampong saya, tidak berjalan normalnya rapat, tidak ada komunikasi yang terbangun antar staff juga jadi benang merah dari propaganda, perpecahan yang terang-terangan ditonjolkan menjadikan meraka tidak arif dan dewasa didepan warganya,sehingga penghargaan terus memudar, administrasi yang aut-autan, kinerja dibawah persentase nol, dan yang lebih parah seperti wacana di atas, antar structural tidak ada sosok yang punya great dan bargaining yang mampu, menghandle, yang mampu menguasai forum, tidak mampu berbicara di hadapan rakyat yang telah mengutusnya,kacau, entah, bah beuanco ih keudeeh , yum breuh teutap lagee sot, nyeleneh seorang yang disudut tiang menasah sambil melenting tembakau made in lampohnya.
Barangkali ini persoalan anak cucu yang mengakar, bosan dengan kesengsaraan, belum lagi hal itu ditimbulkan oleh pengkhianatan, oleh ketidak becusan, sehingga ada kesimpulan update ari bibir ke bibir, tidak mau peduli, atau malah berontak, dengan kata lain, apatis,atau maju melawan,disayangkan, karena sangatlah sulit merawat dari pada menyemai, demikian halnya yang terjadi saat sekarang ini, meski saya belum pernah secara ilmiyah melakukan reaseach, pertanyaannya apakah, polemic ini berlaku pada gampong ini, atau hampir di seantro tanah air, yang krisis identitas, krisis tauladan, harapan dan sebaris doa dengan isi yang sama, aleh pajan maju?! Sedang apa sen dengan raga kanot tanoh -nya hanya punya satu kalimatnya yang sering di toreh di meja warung kopi, dengan ujung kunci motor CB-nya, bah beu ie peuk ih, meunjoe lagee njoe peukaten uruen-ureung yang ka ta peutuha.
Awai boh manok, atau awai lahee ma manok??ungkapan yang pantas untuk sebuah dilemma structural gampong yang terus digulir oleh pemberontak,heran memang, berdiskusi atau sharing dengan lawan yang dibawah rata-rata, meski nasi telah menjadi bubur, namun tetaplah ia tokoh utama gampong, Peutua gampong yang patut di hargai walau harganya seharga oggokan jasad hidup, masukan dan saran produktif dianggap angin lalu, dan seiring waktu kinerjanya tanpa pertimbangan juga bobrok, entah mau jadi apa, berusaha semaksimal mungkin untuk tetap objektif, susah, sebagai saksi hidup saya juga merasakan kekecewaan yang sama dengan kawan kawan yang lain, Rapat Umum yang ‘konyol’.
Usungan persatuan,kesatuan membangun besama satu padu, berbatas pada poster HVS sebelum menjelang hari penceblosan,, di teriaki pada kapanye sederhana, berbisnis tim tanpa ajaran dan mau belajar, hasilnya hampa, tidak terletak entah pada lengan baju siapa ditumpu semua kekurangan, berjalan dengan ban kempes, sementara penumpang jua yang terus deg-degan, apalagi setelah ini?!
Menurut hemat saya, Rapat Umum menurut kamus bahasa Indonesia yang disempurnakan,adalah suatu perkumpulan, atau sekelompok orang, yang ingin menyelasaikan,mencari jalan keluar atau memutuskan perkara secara bersama,namun pengalaman pahit terulang di gampong saya, tidak berjalan normalnya rapat, tidak ada komunikasi yang terbangun antar staff juga jadi benang merah dari propaganda, perpecahan yang terang-terangan ditonjolkan menjadikan meraka tidak arif dan dewasa didepan warganya,sehingga penghargaan terus memudar, administrasi yang aut-autan, kinerja dibawah persentase nol, dan yang lebih parah seperti wacana di atas, antar structural tidak ada sosok yang punya great dan bargaining yang mampu, menghandle, yang mampu menguasai forum, tidak mampu berbicara di hadapan rakyat yang telah mengutusnya,kacau, entah, bah beuanco ih keudeeh , yum breuh teutap lagee sot, nyeleneh seorang yang disudut tiang menasah sambil melenting tembakau made in lampohnya.
Barangkali ini persoalan anak cucu yang mengakar, bosan dengan kesengsaraan, belum lagi hal itu ditimbulkan oleh pengkhianatan, oleh ketidak becusan, sehingga ada kesimpulan update ari bibir ke bibir, tidak mau peduli, atau malah berontak, dengan kata lain, apatis,atau maju melawan,disayangkan, karena sangatlah sulit merawat dari pada menyemai, demikian halnya yang terjadi saat sekarang ini, meski saya belum pernah secara ilmiyah melakukan reaseach, pertanyaannya apakah, polemic ini berlaku pada gampong ini, atau hampir di seantro tanah air, yang krisis identitas, krisis tauladan, harapan dan sebaris doa dengan isi yang sama, aleh pajan maju?! Sedang apa sen dengan raga kanot tanoh -nya hanya punya satu kalimatnya yang sering di toreh di meja warung kopi, dengan ujung kunci motor CB-nya, bah beu ie peuk ih, meunjoe lagee njoe peukaten uruen-ureung yang ka ta peutuha.
15 September, 2011
YA INI KITA,DIA dan MEREKA
terhormat singgasana anda,
bertopi meukeutoep meubaloet meuh permata, gagah, geurangsang, biek prang peusyuhu bangsa, sayang.. banyak terbengkalai bangkai bangkai dalam balur rindu, bergemuruh sesak air mata dan secebis pengaharapan nyata, kau para wali, para umara, sudah lelap dalam bingkai kaca, sejuk kiri kanan dayang, pun mereka beratap rumbia dengan dingin yang sama, tanpa sepintal benang sarung lusuh,gemerlap bintang, dan temaram lampu kamarmu tak bertukar, cahaya menyinggahi sudut dapur terbuka, kanot tanoh dan aweuk cabeung kupi, sesekali terpental dari bias dinding keemasan peleupuek meuria, beda Tuan dengan remang lampu mu, ku khawatirkan nelangsa cinta tak lagi bersemai, pupus oleh tekanan waktu dan penantian di teluk bayur yang lama.,,sedang buyung tak kunjung ada.wajah kemayumu tersebar, program pro rakyat menyengat, busuk, tinggallah membungkus kacang, mahal, meski kami yang menanam,membungkus cabai, meski kami yang semai, negeri kami, negeri apa ini Tuan, dulu belanda, sekarang seudara, Tuhan bataskan kami nafas dalam negeri ini, sehingga sutradara tentang "merdeka" kami tumbalnya, besok dengan keadaan yang pasti sama, secarik kertas, bubuhan cap peutua gampong yang dirayueng kesana kemari, menjelajahi meja meja birokrasi yang bukan bidangnya, bukan dia orangnya, "tunggu bapak pulang"... sedang anak terus menggerus, nasi,air, guci atau mon tanoh di belakang rumah,karena kehausan,mon dekat ayahnya di eksekusi oleh pengadilan dadakan, tanpa ruhut sitompul atau buyung nasition, Inna Lillahi...
Tuan, berhatilah dengan gagang ranjang, ditakutkan emas dan perak nya luntur, biar kunci pintu rumah kami cukup dengan pacok bak dama yang lebih kokoh dari tumpuan merk luar yang kami belikan untuk pendapa mu..
sahabat, jika kamu dapati fhoto atau koran, atau selebaran orang bergambar baju pakaian aceh, simpan rapat-rapat, jangan pajang, jangan bakar, karna jika kau pun terbunuh, lanjutkan itu ke anak cucumu, mereka mereka keturunan aceh, yang mengkhianati aceh, yang membiarkan kita angoeh bak preh i siram ie leupie, rupanya air mata, air mata tanpa selang pemadam kawan, jika rumah mertuamu rapuh tamehnya, kau harus mengungsi bukan karena perang, pergilah, cari penghidupan yang layak, jangan galau karena tidak ada KK cap burung garuda, karena kertas itu tidak menjamin anakmu bisa terbeli pisang bu-ie nya, kita bertemu, di bukit 1998, dengan kacamata hitam tergores gagangnya, dasar, karena kelaparan lam prang cuma sepotong ruti pengisi perut kita, dia punya banyak beras sekarang, tapi mahal...
bertopi meukeutoep meubaloet meuh permata, gagah, geurangsang, biek prang peusyuhu bangsa, sayang.. banyak terbengkalai bangkai bangkai dalam balur rindu, bergemuruh sesak air mata dan secebis pengaharapan nyata, kau para wali, para umara, sudah lelap dalam bingkai kaca, sejuk kiri kanan dayang, pun mereka beratap rumbia dengan dingin yang sama, tanpa sepintal benang sarung lusuh,gemerlap bintang, dan temaram lampu kamarmu tak bertukar, cahaya menyinggahi sudut dapur terbuka, kanot tanoh dan aweuk cabeung kupi, sesekali terpental dari bias dinding keemasan peleupuek meuria, beda Tuan dengan remang lampu mu, ku khawatirkan nelangsa cinta tak lagi bersemai, pupus oleh tekanan waktu dan penantian di teluk bayur yang lama.,,sedang buyung tak kunjung ada.wajah kemayumu tersebar, program pro rakyat menyengat, busuk, tinggallah membungkus kacang, mahal, meski kami yang menanam,membungkus cabai, meski kami yang semai, negeri kami, negeri apa ini Tuan, dulu belanda, sekarang seudara, Tuhan bataskan kami nafas dalam negeri ini, sehingga sutradara tentang "merdeka" kami tumbalnya, besok dengan keadaan yang pasti sama, secarik kertas, bubuhan cap peutua gampong yang dirayueng kesana kemari, menjelajahi meja meja birokrasi yang bukan bidangnya, bukan dia orangnya, "tunggu bapak pulang"... sedang anak terus menggerus, nasi,air, guci atau mon tanoh di belakang rumah,karena kehausan,mon dekat ayahnya di eksekusi oleh pengadilan dadakan, tanpa ruhut sitompul atau buyung nasition, Inna Lillahi...
Tuan, berhatilah dengan gagang ranjang, ditakutkan emas dan perak nya luntur, biar kunci pintu rumah kami cukup dengan pacok bak dama yang lebih kokoh dari tumpuan merk luar yang kami belikan untuk pendapa mu..
sahabat, jika kamu dapati fhoto atau koran, atau selebaran orang bergambar baju pakaian aceh, simpan rapat-rapat, jangan pajang, jangan bakar, karna jika kau pun terbunuh, lanjutkan itu ke anak cucumu, mereka mereka keturunan aceh, yang mengkhianati aceh, yang membiarkan kita angoeh bak preh i siram ie leupie, rupanya air mata, air mata tanpa selang pemadam kawan, jika rumah mertuamu rapuh tamehnya, kau harus mengungsi bukan karena perang, pergilah, cari penghidupan yang layak, jangan galau karena tidak ada KK cap burung garuda, karena kertas itu tidak menjamin anakmu bisa terbeli pisang bu-ie nya, kita bertemu, di bukit 1998, dengan kacamata hitam tergores gagangnya, dasar, karena kelaparan lam prang cuma sepotong ruti pengisi perut kita, dia punya banyak beras sekarang, tapi mahal...
14 September, 2011
07 September, 2011
Jamuan malam ini
tersungkur batu batu alam, seiring mentari terbenam,
biarlah kawan, di belakang hidang sederhana
mencebis mata, lalu hati menggerutu
pertanyakan lagi rasa itu
meski hidang sederhana
mendayu, sepoi lalu letih
ach...jangan persetan,batu bersaksi
biarlah kawan, di belakang hidang sederhana
mencebis mata, lalu hati menggerutu
pertanyakan lagi rasa itu
meski hidang sederhana
mendayu, sepoi lalu letih
ach...jangan persetan,batu bersaksi














