Pages

15 September, 2011

YA INI KITA,DIA dan MEREKA

terhormat singgasana anda,
bertopi meukeutoep meubaloet meuh permata, gagah, geurangsang, biek prang peusyuhu bangsa, sayang.. banyak terbengkalai bangkai bangkai dalam balur rindu, bergemuruh sesak air mata dan secebis pengaharapan nyata, kau para wali, para umara, sudah lelap dalam bingkai kaca, sejuk kiri kanan dayang, pun mereka beratap rumbia dengan dingin yang sama, tanpa sepintal benang sarung lusuh,gemerlap bintang, dan temaram lampu kamarmu tak bertukar, cahaya menyinggahi sudut dapur terbuka, kanot tanoh dan aweuk cabeung kupi, sesekali terpental dari bias dinding keemasan peleupuek meuria, beda Tuan dengan remang lampu mu, ku khawatirkan nelangsa cinta tak lagi bersemai, pupus oleh tekanan waktu dan penantian di teluk bayur yang lama.,,sedang buyung tak kunjung ada.wajah kemayumu tersebar, program pro rakyat menyengat, busuk, tinggallah membungkus kacang, mahal, meski kami yang menanam,membungkus cabai, meski kami yang semai, negeri kami, negeri apa ini Tuan, dulu belanda, sekarang seudara, Tuhan bataskan kami nafas dalam negeri ini, sehingga sutradara tentang "merdeka" kami tumbalnya, besok dengan keadaan yang pasti sama, secarik kertas, bubuhan cap peutua gampong yang dirayueng kesana kemari, menjelajahi meja meja birokrasi yang bukan bidangnya, bukan dia orangnya, "tunggu bapak pulang"... sedang anak terus menggerus, nasi,air, guci atau mon tanoh di belakang rumah,karena kehausan,mon dekat ayahnya di eksekusi oleh pengadilan dadakan, tanpa ruhut sitompul atau buyung nasition, Inna Lillahi...
Tuan, berhatilah dengan gagang ranjang, ditakutkan emas dan perak nya luntur, biar kunci pintu rumah kami cukup dengan pacok bak dama yang lebih kokoh dari tumpuan merk luar yang kami belikan untuk pendapa mu..
sahabat, jika kamu dapati fhoto atau koran, atau selebaran orang bergambar baju pakaian aceh, simpan rapat-rapat, jangan pajang, jangan bakar, karna jika kau pun terbunuh, lanjutkan itu ke anak cucumu, mereka mereka keturunan aceh, yang mengkhianati aceh, yang membiarkan kita angoeh bak preh i siram ie leupie, rupanya air mata, air mata tanpa selang pemadam kawan, jika rumah mertuamu rapuh tamehnya, kau harus mengungsi bukan karena perang, pergilah, cari penghidupan yang layak, jangan galau karena tidak ada KK cap burung garuda, karena kertas itu tidak menjamin anakmu bisa terbeli pisang bu-ie nya, kita bertemu, di bukit 1998, dengan kacamata hitam tergores gagangnya, dasar, karena kelaparan lam prang cuma sepotong ruti pengisi perut kita, dia punya banyak beras sekarang, tapi mahal...

1 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More