Pages

17 September, 2011

PEUTUA HAN SEP TUHA

PEUTUA HANSEP TUHA
Awai boh manok, atau awai lahee ma manok??ungkapan yang pantas untuk sebuah dilemma structural gampong yang terus digulir oleh pemberontak,heran memang, berdiskusi atau sharing dengan lawan yang dibawah rata-rata, meski nasi telah menjadi bubur, namun tetaplah ia tokoh utama gampong, Peutua gampong yang patut di hargai walau harganya seharga oggokan jasad hidup, masukan dan saran produktif dianggap angin lalu, dan seiring waktu kinerjanya tanpa pertimbangan juga bobrok, entah mau jadi apa, berusaha semaksimal mungkin untuk tetap objektif, susah, sebagai saksi hidup saya juga merasakan kekecewaan yang sama dengan kawan kawan yang lain, Rapat Umum yang ‘konyol’.
Usungan persatuan,kesatuan membangun besama satu padu, berbatas pada poster HVS sebelum menjelang hari penceblosan,, di teriaki pada kapanye sederhana, berbisnis tim tanpa ajaran dan mau belajar, hasilnya hampa, tidak terletak entah pada lengan baju siapa ditumpu semua kekurangan, berjalan dengan ban kempes, sementara penumpang jua yang terus deg-degan, apalagi setelah ini?!
Menurut hemat saya, Rapat Umum menurut kamus bahasa Indonesia yang disempurnakan,adalah suatu perkumpulan, atau sekelompok orang, yang ingin menyelasaikan,mencari jalan keluar atau memutuskan perkara secara bersama,namun pengalaman pahit terulang di gampong saya, tidak berjalan normalnya rapat, tidak ada komunikasi yang terbangun antar staff juga jadi benang merah dari propaganda, perpecahan yang terang-terangan ditonjolkan menjadikan meraka tidak arif dan dewasa didepan warganya,sehingga penghargaan terus memudar, administrasi yang aut-autan, kinerja dibawah persentase nol, dan yang lebih parah seperti wacana di atas, antar structural tidak ada sosok yang punya great dan bargaining yang mampu, menghandle, yang mampu menguasai forum, tidak mampu berbicara di hadapan rakyat yang telah mengutusnya,kacau, entah, bah beuanco ih keudeeh , yum breuh teutap lagee sot, nyeleneh seorang yang disudut tiang menasah sambil melenting tembakau made in lampohnya.
Barangkali ini persoalan anak cucu yang mengakar, bosan dengan kesengsaraan, belum lagi hal itu ditimbulkan oleh pengkhianatan, oleh ketidak becusan, sehingga ada kesimpulan update ari bibir ke bibir, tidak mau peduli, atau malah berontak, dengan kata lain, apatis,atau maju melawan,disayangkan, karena sangatlah sulit merawat dari pada menyemai, demikian halnya yang terjadi saat sekarang ini, meski saya belum pernah secara ilmiyah melakukan reaseach, pertanyaannya apakah, polemic ini berlaku pada gampong ini, atau hampir di seantro tanah air, yang krisis identitas, krisis tauladan, harapan dan sebaris doa dengan isi yang sama, aleh pajan maju?! Sedang apa sen dengan raga kanot tanoh -nya hanya punya satu kalimatnya yang sering di toreh di meja warung kopi, dengan ujung kunci motor CB-nya, bah beu ie peuk ih, meunjoe lagee njoe peukaten uruen-ureung yang ka ta peutuha.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More